TRENDING

Selasa, 21 Januari 2014

[Orasi Anis Matta] "Ledakan Segi 3" Didalam Menyambut Gelombang 3 Besar Indonesia

Disampaikan dalam acara Silaturahim Tokoh dan Relawan PKS se-Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.

Hall Indoor Bumi Wiyata
Depok, 20 Januari 2014

Menyambut Gelombang 3 Besar Indonesia

Oleh H. M Anis Matta, Lc.

Bismillahirrohmanirrohim.

Assalamualaikum wr wb.


Saya selalu meminta pada semua daerah yang saya kunjungi untuk mengadakan program silaturahim seperti ini, karena di tengah kompetisi politik yang semakin seru dan kadang-kadang politik ini tampak seperti dangerous game (permainan yang berbahaya),supaya ketegangan diturunkan dan politik atraksinya dinaikan. Sehingga politik ini bukan lagi menjadi dangerous game, tapi berubah menjadi atractive game, permainannya mengasyikkan, semua orang terlibat, permainannya seru dan tidak berbahaya.

Acara-acara seperti ini selalu saya adakan disetiap kunjungan saya. Dengan melakukan acara seperti ini kita punya kesempatan untuk mencairkan suasana dan menghilangkan kesalahpahaman, terutama ketika menjelang pemilu seperti ini, kesalapahaman selalu banyak terjadi karena banyak kampanye-kampanye yang tidak produktif.

Saya berkunjung ke salah satu pesantren terkenal di Jawa Timur dan mengikuti haul dan beberapa acara, yang saya kaget adalah pernyataan kyainya yang mengatakan bahwa selama ini yang beliau ketahui tentang PKS adalah anti ziarah kubur, anti tahlilan, anti maulid, dan seterusnya. Ternyata kehadiran Presiden PKS kesini menghapus semua fitnah-fitnah seperti itu.

Banyak sekali hal yang bisa kita selesaikan secara sederhana hanya dengan memperbanyak kunjungan silaturahim seperti ini. Karena pada akhirnya kekuasaan itu tidak ada artinya kecuali ketika digunakan untuk beribadah kepada ALLAH SWT.

Tidak ada enak menjadi pejabat ketika rakyatnya menjadi musuh. Atau saudara-saudara kita menjadi lawan/musuh kita, itu tidak ada enaknya. Kita bisa hidup jauh lebih enak dengan menjadi saudara untuk saling mencintai, dan menjadikan kekuasaan itu adalah hal-hal kecil. Itu sebabnya saya banyak  mengadakan kunjungan seperti ini. Apalagi Rasullullah SAW mengatakan,“Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipangjangkan umurnya hendaklah dia melakukan silaturahim”.

Bpk ibu, satu hal yang penting untuk dijelaskan dalam acara silaturahin adalah selama PKS terlibat dalam politik, sebagian besar waktu PKS habis untuk membangun kapasitas organisasi, dan ada banyak waktu dalam masa periode 10 tahun pertama, dimana tidak terlibat dalam perbincangan nasional menyangkut masa depan Indonesia secara intensif. Sebabnya adalah saat lahir partai ini lahir terlalu kecil, bukan lahir dengan premature, tapi lahir terlalu kecil sehingga perlu waktu untuk membesarkan bayi politik yang namanya PKS ini. Dikasih gizi yang bagus dan

Itu sebabnya ada catatan penting PKS :
1. PKS ini adalah partai yang terlalu fokus terhadap dirinya sendiri,

2. PKS paling jarang terlibat dalam pembicaraan tentang masa depan Indonesia.

Penjelasannya adalah karena kita sibuk menata rumah tangga.
Namun, Alhamdulillah selama waktu itu, pekerjaan ini berjalan dengan sangat baik.

Saat NMI menjadi Presiden PKS saat itu (1998-1999), jumlah kader PKS hanya 33 ribu, Pada 2004 ,saat Pak HNW menjadi Presiden bertambah menjadi 400 rb dan pada tahun 2009 bertambah dua kali lipat dan terus bertambah sampai sekarang. Karena itulah kami mulai ikut terlibat dalam pembicaraan tentang wacana keindonesiaan.

Untuk itu saya mulai membuat buku tentang “Gelombang Ketiga Indonesia”. Untuk menunjukkan ke publik bahwa kita mulai ingin sharing telibat dalam wacana keindonesiaan, setelah kita menyelesaikan persoalan rumah tangga sebagai salah satu partai polotik di Indonesia.

Saya lahir tahun 1968 pada waktu orde baru baru berkuasa. Waktu saya kecil, saya pernah tinggal di maluku tenggara dan bersekolah di sekolah Kristen. Kemudian kembali lagi ke kampung di Bone, pagi sekolah di SD Impres, sorenya di Madrasah millik NU.

Saat itu Muhamadiyah ingin mendirikan sekolah di kampung saya, dan semua menolak. Karena di kampung saya semuanya NU, yang semuanya mengenakan sarung, sedangkan sekolah yang akan didirikan Muhamadiyah ini menggunakan celana panjang. Dan kita anggap ini melanggar tradisi agama. Jadi kita cegat murid2 yg sekolah, waktu SMP dan SMA saya sekolah di pesantren punya Muhamadiyah (Pusat Pimpinan Muhammadiyah) Sulawesi Selatan, dan disinilah tempat pengkaderan muhammadiya di Indonesia Timur.
Apa yang menjadi ketegangan antara NU dan Muhamadiyah  di kampung saya, saya mulai clear.

Saya juga mengalami ketegangan, ketegangan ini antara Islam dan Modernitas. Pesantren ini tempatnya dipinggir kota, dulu saya bertanya kepada kyai saya kenapa pesantren ini disimpan di kampung jauh dari kota, kemudian dijawab, anggap saja kota itu neraka, jadi kita  menjauh dari neraka.

Kemudian ketika saya tamat SMA, saya meminta arahan kepada kyai kuliah dimana. Kyai saya istiharah dan satu bulan kemudian beliau memanggil saya. Dan beliau menjawab begini: kamu sekolah di Jakarta, disana ada sekolah namanya LIPIA. Saya bertanya, “kenapa ke sana kyai?”
“anggap saja Jakarta itu neraka, di tengah-tengahnya ada surga, sekolah itu surga di tengah neraka, maka kamu sekolah ke sana saja.”

Ide dasar tentang pesantren itu pada dasarnya adalah ide untuk menyelamatkan agama dengan cara menghindari pengaruh kota, pengaruh kemodern-an. Secara tidak sadar kita menyimpan ketegangan dalam diri kita, bahwa untuk menjadi muslim yang baik, kita tidak mungkin menjadi modern. Dan jika kita memilih untuk menjadi orang modern hampir pasti kita juga kesulitan menjadi muslim yang baik.

Saya menyimpan itu dalam kesadaran saya, tahun 86 saya ke jakarta, 2 tahun sebelumnya ada peristiwa tanjung priok. Dan 1 tahun sebelum itu ada pemberlakuan asas tunggal pancasila. Ada salah satu kyai besar Muhammadiyah di Sulawesi Selatan akan melakukan muktamar di Solo untuk menentukan menerima keputusan asas itu atau tidak, kyai ini berdoa, “ ya ALLAH, jika Muhammadiyah benar-benar menerima asas ini, tolong saya dimatikan sebelum itu, kenyataannya kyai ini meninggal sebelum diadakannya muktamar itu.”

Saat saya ke Jakarta, saya mulai merasakan ada ketegangan, bukan ketegangan antara Islam dengan modern tapi ketegangan yang lain, yaitu ketegangan antara islam dengan negara. Secara sayup-sayup kita merasakan segitiga ketegangan itu, yaitu ketegangan antara Islam, modernitas, dan keindonesiaan.

Inilah ketegangan segitiga yang kita rasakan saat itu. Sejak saat itu, saya mulai terlibat dan ikut bergabung dengan kelompok yang disebut jamaah tarbiyah.
Waktu saya terlibat secara perlahan lahan kita mulai menemukan jawaban dari ketegangan antara islam dan modernitas. Kemudian kita merasakan diujung tahun 80an dan diawal tahun 90an, proses islamisasi orang islam, orang Islam menjadi lebih taat dan menjadi lebih terbuka membuka agamanya, komitmennya terhadap agama. Terutama dalam fenomena jilbab.

Kemudian saat itu ada satu fenomena politik, berdirinya ICMI, waktu itu ada tren, yaitu penguasa orba, dalam hal ini Pak Harto juga mulai naik haji dan seterusnya. ketakutan terhadap Islam ideologi agak berkurang. Sehingga orang mulai menunjukan keislamannya secara terbuka.

Saat itu, seperti yang disebutkan oleh Cak Nur, muncul fenomena yang disebut santri kota. Banyaknya Orang-orang kota, khususnya orang-orang terdidik dan yang lebih khususkan lagi orang-orang yang latar-belakangnya pendidikan umum yang justru terlihat lebih santri. Fenomena santri kota ini menunjukkan gejala baru di Indonesia, yaitu munculnya kelas menengah baru diIndonesia.
Tahun 90an kita mulai menemukan titik temu antara Islam dengan modernitas. Tapi Islam dengan keindonesiaan belum ditemukan keredaannya.

Waktu PKS berdiri di tahun 98, kita juga menemukan ketegangan itu. Dan jauh lebih kasat mata.
Saat Pak NMI dipilih menjadi presiden pertama PKS, dan bukan yang dari latar belakang timur tengah, dan ini yang bisa diterima, walaupun santri tapi dengan background amerika, kira2 untuk konteks keindonesiaan, ini tidak terlalu tegang. Dan ini untuk menyesaikan ketegangan dan menjadi sangat efektif.

Ketegangan antara Islam dan Keindonesiaan ini  yg membuatnya reda adalah munculnya generasi baru, yaitu anak2 yang lahir di atas tahun 90an, Karena :
1. Anak-anak yang lahir diatas 90an tidak lagi menyaksikan tembok berlin,

2. Saat mereka lahir, tembok berlin sudah runtuh, Unisoviet sudah runtuh,

3. Perang dingin berakhir. Artinya ketegangan global antara dunia timur dan barat sudah tidak ada lagi, kemudian muncul fenomena baru, yaitu fenomena demokratisasi global. Pertama-tama terjadi di UniSoviet, Asia Tengah, Asia Selatan, Asia Timur, termasuk Asia Tenggara. Dan karena itu reformasi 98 merupakan termasuk dalam demokratisasi global. Demokratisasi global juga terjadi di Timur tengah. Partai Nahda yang sekarang memimpin di Tunis, itu sudah menang dari tahun 1991. Vis menang di Aljazair tahun 1991, tapi dua-duanya diberangus. Sehingga di Timur Tengah terbebas dari demokratisasi global. Tapi Indonesia ada dalam pengaruh demokratisasi.

Kemudian muncul 3 fenomena sekaligus di Indonesia. Saya menyebutnya “Ledakan Segitiga,” yaitu :
1. Ledakan globalisasi, yg membawa proses demokratisasi ke Indonesia

2. ledakan demokratisasi di Indonesia

3. ledakan demografi (2010 ke atas).

Jumlah anak muda adalah jumlah yang dominan. Anak-anak yang berumur 17-24 tahun sekarang kira-kita jumlahnya sekitar 53an juta orang.

Generasi ini, generasi yang lahir dan tidak merasakan fenomena ketegangan segitiga. Fenomena ini (ledakan globalisasi, demokratisasi, dan  demografi), yaitu dominasi orang muda di Indonesia yang kemudian saya namakan fenomena gelombang ke 3 karena mereka tidak mempunyai ikatan emosi dengan ketegangan yang lalu. Oleh karena itu, sekarang hilang era politik aliran. Sekarang susah membedakan partai Islam dan partai nasionalis. Karena sekarang pasrtai Islam berubah menjadi nasiopnalis, partai nasionalis juga menjadi Islami. Contoh, PDIP punya baitul muslimin, golkar punya majelis dakwah islamiyah, PKS  mendeklarasi diri sebagai partai terbuka, dll.

Kita semua ini secara perlahan keluar dari pusat ketegangan ini, pusat ketegangan ini berada di gelombang kedua, gelombang yang terjadi setelah Indonesia merdeka sampai era reformasi. Karena di era ini kita berada pada pengaruh perang dingin. Sedangkan gelombang pertama adalah saat kita dijajah sampai kita merdeka. Yang khas kemudian adalah, kita semuanya perlu ide baru tentang Indonesia, krn ide ini lah yg relatif kosong. Banyak yg menjual kecemasan dan kesedihan, dengan mengembalikan isu yang berada di gelonmbang ke 2 (isu tentangkedaulatan, isu tentang harga diri bangsa).

Di gelombang ke-3 isu ini tidak ada karena kita sudah terkoneksi dengan dunia. Sekarang ini generasi baru saat ini bukan hanya sadar bahwa dia adalah warga negara Indonesia, tapi karena dia well connected, terhubung dengan baik dengan dunia luar. Dia juga sadar bahwa dia adalah warga dunia.
Sekarang kita bergerak, orde lama pusat perhatiannya politik, orde baru pusat perhatiannya ekonomi, era reformasi pusat perhatiannya adalah masyarakat. Hasil utama orla institusi, orba master of ekonomi dan pembangunan negara, era reformasi civil of society. Maka dari itu LSM, kampus, media, partai politik menjadi sangat kuat. Mereka merupakan pranata utama yang menciptakan perubahan sosial di Indonesia. Situasi ini disebut situasi gelombang 3 yg perlu ide baru.

Tugas kita adalah bagaimana kita bisa melompat menjadi negara besar, buakn dalam wilayahnya, bukan dalam populasinya, tapi dalam pengaruh ukuran politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Seharusnya itu bisa lebih besar dari ukuran teritori dan ukuran populasi. Kenapa negara kecil seperti Qatar, Singapura yg kecil tapi lebih populer dr Indonesia. Seharusnya saat ini Indonesia mempunyai ukuran politik, ekonomi, sosial, dan budaya yag lebih besar dari kemarin. Jalan menuju itu adalah merubah cara pandang. Kita harus keluar dari cara pandang Indonesia sebagai political entity menjadi civilization entity, menjadi komunitas peradaban. Itu akan mengubah cara bekerja dan mengubah pencapaian. Kalau kita mengubah cara pandang kita seperti itu maka indonesia akan menjadi negara dengan 3 ciri utama, yaitu lebih relijius, lebih berpengetahuan, dan lebih sejahtera.

Yang belum ditemukan adalah negara relijius yang sejahtera. Amanat konstitusi kita adalah menjadi negara dan masyarakat yang sejahtera, tapi dalam waktu yang sama relijius. Itu sebabnya dalam buku saya menjelaskan, ciri agama, pengetahuan, dan sejahtera.
Ciri utama pondasi kemajuan Indonesia adalah agama, pengetahuan, dan kesejahteraan. Dengan segitiga ini adalah hasil dari ketegangan Islam dan modernitas. Inti dari modernitas adalah pengetahuan dan inti dari  Indonesia adalah cita-cita bersama dalam konstitusi menjadi negara yang adil dan sejahtera.

Saya kita dengan cara ini, Indonesia bisa menjadi model tidak hanya bagi negara islam, tapi juga negara barat. Kita membuka diri kepada masyarakat untuk bekerja bersama, agar semua dapat terlibat. (ccm)

Posting Komentar

 
Back To Top